JAKARTA — Pemerintah terus mendorong percepatan penyelesaian pembangunan Jalan Tol Palembang-Betung, Sumatera Selatan, termasuk memastikan kesiapan Jembatan Musi yang menjadi salah satu struktur penting pada ruas jalan tol tersebut.
Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyebut penyelesaian infrastruktur tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat konektivitas Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS), khususnya jaringan transportasi di wilayah Sumatera Selatan.
Kepala BPJT, Ni Komang Rasminiati, mengatakan struktur Jembatan Musi telah melalui tahapan pengujian dan evaluasi teknis. Jembatan tersebut telah memperoleh Sertifikat Persetujuan Laik Fungsi Struktur sebagai salah satu persyaratan penting sebelum nantinya difungsikan untuk melayani masyarakat.
Sertifikat tersebut diterbitkan setelah jembatan menjalani serangkaian proses pemeriksaan dan pengujian, termasuk uji beban yang dilaksanakan pada 4–5 Maret 2026. Pengujian dilakukan untuk memastikan respons dan kinerja struktur sesuai dengan desain perencanaan serta memenuhi persyaratan keamanan dan keandalan.
“Jembatan ini merupakan struktur khusus karena memiliki total bentang tengah 380 meter, ditambah jembatan pendekat sepanjang 656 meter di sisi Bengkinang dan 648 meter di sisi Gandus, sehingga total panjang jembatan mencapai 1.684 meter,” ujar Ni Komang, Sabtu (26/9/2026).
Jembatan Musi memiliki struktur utama tipe balanced cantilever concrete box girder dengan konfigurasi bentang 100 meter + 180 meter + 100 meter dan lebar total 2 × 12,7 meter. Struktur utama sepanjang 380 meter tersebut menjadi bagian krusial dari konektivitas Tol Palembang-Betung.
Untuk memastikan kondisi struktur tetap terpantau setelah beroperasi, BPJT juga menyiapkan pemasangan Structural Health Monitoring System (SHMS). Sistem tersebut akan dilengkapi sekitar 100 sensor yang berfungsi memantau kondisi dan respons struktur jembatan secara berkelanjutan.
Keberadaan sistem pemantauan tersebut diharapkan dapat membantu pengelola mendeteksi perubahan kondisi struktur secara lebih dini sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan dan keandalan jembatan selama masa layanan.
Tol Palembang-Betung Dibangun 69,19 Kilometer
Secara keseluruhan, Jalan Tol Palembang-Betung memiliki panjang sekitar 69,19 kilometer dan terbagi dalam tiga seksi pembangunan.
Pemerintah menargetkan penyelesaian sejumlah bagian ruas tersebut secara bertahap. BPJT juga terus mendorong agar ruas Tol Palembang-Betung dapat difungsionalkan pada periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026–2027, sehingga dapat dimanfaatkan untuk mendukung mobilitas masyarakat pada momentum meningkatnya arus perjalanan.
Pembangunan jalan tol tersebut menggunakan konfigurasi awal 2×2 lajur dan direncanakan dapat dikembangkan menjadi 2×3 lajur pada tahap akhir.
Proyek Tol Palembang-Betung memiliki nilai investasi sekitar Rp14,98 triliun. Sementara biaya konstruksinya diperkirakan mencapai Rp13,90 triliun dengan biaya pembebasan lahan sekitar Rp390 miliar. Masa konsesi jalan tol ditetapkan selama 50 tahun.
Kehadiran ruas tol ini diharapkan dapat memperpendek waktu tempuh sekaligus meningkatkan efisiensi pergerakan orang dan barang antara Palembang dan wilayah Betung serta kawasan sekitarnya. Pemerintah sebelumnya menyebut konektivitas tersebut juga akan menjadi bagian dari penguatan jaringan transportasi di Pulau Sumatera.
Diarahkan Memperkuat Konektivitas Menuju Jambi
Staf Ahli Menteri PU Bidang Hubungan Antar Lembaga, Triono Junoasmono, mengatakan pembangunan Tol Palembang-Betung tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari rencana pengembangan jaringan Jalan Tol Trans Sumatera yang lebih luas.
Menurutnya, jaringan tol yang telah beroperasi dari Bakauheni hingga Palembang nantinya akan terus dikembangkan menuju wilayah lain di Sumatera.
“Kalau kita lihat, jalan tol yang sudah beroperasi itu dari Bakauheni Lampung sampai ke Palembang. Sekarang dilanjutkan Palembang-Betung, dan mudah-mudahan selanjutnya bisa masuk konstruksi sampai ke Jambi,” jelas Triono.
Pengembangan jaringan tersebut juga sejalan dengan rencana konektivitas yang menghubungkan Tol Palembang-Betung dengan ruas Betung-Tempino-Jambi. Jika seluruh jaringan tersebut tersambung, konektivitas antarkawasan di Sumatera bagian selatan akan semakin terintegrasi.
Dengan demikian, penyelesaian Tol Palembang-Betung bukan hanya berkaitan dengan pembangunan jalan dan jembatan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun jaringan transportasi yang mendukung mobilitas masyarakat, distribusi logistik, serta aktivitas ekonomi antardaerah di Pulau Sumatera.
