AROLANGUN, JAMBI – Bentrokan antara oknum anggota TNI Yonif 896/Serumpun Pseko Sarolangun dengan warga Suku Anak Dalam - SAD terjadi di area perkebunan kelapa sawit PT SAL, Desa Hitamulu, Kabupaten Sarolangun, Jambi. Peristiwa ini kini menjadi sorotan publik.
Informasi yang dihimpun, insiden bermula dari laporan pihak security PT SAL. Seorang warga SAD dilaporkan mengambil Tandan Buah Segar - TBS kelapa sawit di area perusahaan.
Menindaklanjuti laporan itu, manajemen PT SAL meminta bantuan personel Yonif 896 untuk mengkondisikan situasi. Tujuannya agar tidak terjadi gesekan antara warga SAD dengan pihak perusahaan.
Namun di lapangan, situasi justru memanas. Menurut keterangan warga SAD, salah satu oknum TNI diduga melakukan pemukulan terhadap seorang warga SAD di lokasi perkebunan.
Peristiwa pemukulan inilah yang memicu ketegangan. Warga SAD tidak terima dan adu mulut pun tak terhindarkan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Yonif 896 maupun PT SAL terkait kronologi detail dan kondisi korban.
Dua Sisi Persoalan
Kasus ini menyorot dua persoalan sekaligus.
Pertama, soal penanganan konflik lahan dan keamanan di area perkebunan. Kehadiran aparat diminta untuk melerai, namun justru berujung dugaan tindakan kekerasan.
Kedua, soal keberadaan Suku Anak Dalam di Jambi. Sejumlah warga sekitar mengeluhkan aktivitas kelompok SAD yang dianggap meresahkan, salah satunya terkait pengambilan hasil perkebunan tanpa izin.
Namun pegiat HAM dan pemerhati SAD mengingatkan, Suku Anak Dalam adalah kelompok masyarakat adat yang rentan. Persoalan kemiskinan, keterbatasan akses, dan konflik lahan dengan perusahaan sering menjadi pemicu gesekan.
Tunggu Langkah Tegas APH
Publik kini menunggu langkah tegas dari Aparat Penegak Hukum - APH di Provinsi Jambi. Baik dari kepolisian maupun TNI diharapkan segera melakukan penyelidikan.
Jika benar ada oknum yang melakukan pemukulan, maka proses hukum harus berjalan. Di sisi lain, perusahaan dan pemerintah daerah juga didorong mencari solusi jangka panjang agar konflik serupa tidak terulang.
Kapolres Sarolangun dan Dandim 0420/Sarko diharapkan segera menggelar pertemuan dengan manajemen PT SAL, tokoh SAD, dan pemerintah desa untuk mencari jalan damai.
Sampai saat ini, situasi di lokasi dilaporkan sudah kondusif. Namun luka dan rasa tidak terima dari warga SAD masih menjadi PR besar bagi semua pihak.
